BREAK THE LIMIT

Menuurt sbueah penilitean di Cmabrigde Uinervtisy, tdiak mejnadi maslaah bgaimaana urtuan huurf dlaam sbueah ktaa. Ynag trepnteing adllah leatk hruuf prteama dan tekrahir itu bnear. Slaein itu dpaat brantaaken dan kmau maish mmapu mebmacanya tnpaa msaalah. Thau kah kmau ? Ini kraena oatk mnausia tdiak mebmaca steiap huurf satu dmei satu, mlaeinkan ktaa sceara kesuleruhan.

 

Apakah teman-teman bisa membaca paragraf di atas? Pasti kita semua bisa membacanya dengan lancar kan? Ya! Itulah hebatnya otak manusia! Otak kita bisa membaca suatu kata meskipun ia tidak tersusun dengan benar. Otak tidak perlu membacanya secara detail (huruf) satu per satu, melainkan langsung secara keseluruhan dari bentuk kata tersebut.
Selain berfungsi sebagai pusat kontrol organ-organ tubuh, otak kita juga berfungsi sebagai pusat pengendali dari segala apa yang kita lakukan, pikirkan dan rasakan. Ia ibarat prosesor, pusat pengolah data yang dikirim dari seluruh tubuh untuk selanjutnya memberi perintah kepada organ-organ tubuh agar bereaksi sesuai dengan rangsangan yang ada.
Jadi, dengan demikian, awal kesuksesan kita pun sebenarnya juga bermula dari otak. Inilah yang juga akhirnya membedakan manusia dengan makhluk lain dimuka bumi. Otak manusia merupakan akal yang memiliki potensi kecerdasan yang luar biasa. Sehingga ia lebih dari sekedar “organ” utama dalam sistem syaraf sebagaimana yang dapat dijumpai pula pada hewan. Dengan akal dan pemikiran yang lahir darinya, manusia dapat mengidentifikasi hal baik atau hal buruk, mampu mengenali permasalahan dan mengatasi masalah tersebut.
Jika otak kita memiliki mindset yakin sukses, maka propabilitas kita sukses akan bertambah besar. Tapi kalau yakin: tidak sukses, maka 101% pasti jadi tidak sukses. Hehehe. Maka dari itu, mari latih otak setiap hari untuk selalu menerima energi positif dan hilangkan semua energi negatif. Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa dalam kehidupan ini selalu ada yang namanya “batas maksimum” dari kemampuan seseorang. Namun jika kita belum menemukan seberapa jauh, seberapa besar, seberapa tahan ataupun seberapa kuat batas maksimum tersebut, maka artinya kita belum mengetahui batasan itu bukan?

 
Suatu penelitian menunjukkan rata-rata manusia di dunia ini menggunakan kurang dari 5% kemampuan otaknya. Penelitian lain mengatakan bahwa setiap hari otak manusia melakukan proses pemikiran lebih dari 25.000 kali, namun hanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan rutinitas setiap hari. Sisanya untuk tidur dan makan. 😀
Pernakah kalian mengenal nama Roger Bannister? Dia adalah seorang pelari asal Inggris yang mempunyai mimpi untuk menjadi jawara melebihi ambang batas kemampuan yang telah dicapai pelari-pelari lainnya. Tahun 1954, tidak seorang pun yakin bahwa seorang manusia mampu menembus waktu lari kurang dari 4 menit/ mil. Para dokter membuat analisa, jika seseorang berlari menembus batas waktu tersebut, paru-parunya akan hancur dan jantungnya tidak mampu berdenyut lebih cepat lagi untuk melampaui waktu tersebut.
Namun, Bannister ingin membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar, dan ia percaya mampu melewatinya. Dengan teknik mempertandingkan 4 pelari yang masing-masing memulai start pada setiap jarak seperempat mil, ternyata usaha itu tidaklah sia-sia. Bannister mampu menembus batasan berlari manusia dengan catatan waktu: 3 menit 59,6 detik. Seminggu kemudian, ada 37 pelari lain yang akhirnya mampu berlari di bawah catatan 4 menit! Ternyata, setelah satu tahun berlalu sejak rekor itu, ada lebih dari 300 orang telah berlari sejauh 1 mil di bawah rekor 4 menit. Menurut salah satu sumber yang penulis dapatkan, rekor terbaru yang tercatat, dipegang oleh pelari asal Maroko, Hicham El Guerrouj , dengan perolehan waktu tempuh 3 menit 43 detik atau lebih cepat 16 detik dari rekor waktu Bannister. Bahkan, pada tahun 2034 nanti, diprediksikan akan ada yang mampu menembus waktu 3 menit 30 detik.
Kasus lainnya datang dari Johny Weismuller, seorang aktor yang juga terkenal dengan keahliannya dalam berenang. Ia tercatat dalam lebih dari 53 rekor Amerika dan 17 rekor dunia. Weismuller merupakan perenang pertama di dunia yang mampu berenang jarak 100 meter di bawah catatan waktu satu menit. Namun, ternyata rekor Weismuller yang ditorehkan pada tahun 1936 –bukanlah sesuatu yang hebat pada zaman kita sekarang ini. Terbukti saat Olimpiade Munich 1976, rekor terbaik Weismuller ini hanya menjadi level pre-eliminari yang harus dilewati para perenang agar dapat ikut bertanding.

 
Inilah yang kemudian yang mungkin bisa disebut sebagai “menghancurkan mental block yang ada dalam pikiran kita”. Jika seseorang bisa dengan capaian A, bukan berarti selamanya pencapaian A tersebut merupakan hasil final yang tak terkalahkan.
Jika seseorang memiliki kemampuan menggebu-gebu (desire) seringkali ia tidak peduli dengan batasan yang ditetapkan oleh orang lain (intelligent ignorance). Zig Ziglar menyebut desire ini sebagai sesuatu yang membedakan antara prestasi rata-rata dengan prestasi juara. Namun, yang sering kali terjadi pada kebanyakan orang adalah lebih mirip dengan karakteristik seekor kutu. Mengapa kutu? Maksudnya bagaimana?

 

Jadi begini, jika kita memasukkan seekor kutu ke dalam toples tetutup, lama-lama kutu itu akan melompat hanya setinggi tutup toples saja. Ketika kita membuka tutupnya, kutu itu tak mampu lagi melompat melebihi garis tutup toples karena dia telah dikondisikan untuk melompat dengan ketinggian yang menurut dia maksimum.
Mari kita lihat contoh nyata lainnya, yang datang dari negeri Paman Sam. Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat, menjadi sebuah kejadian langka di negara yang telah berdiri ratusan tahun di bawah pimpinan golongan kulit putih. Kalau saja Obama beranggapan sebagaimana keadaan mainstream saat itu, maka mungkin hingga hari ini tidak ada presiden Amerika Serikat yang datang dari golongan kulit hitam. Namun, Obama tidak peduli dengan ‘batasan’ tersebut, dia terus berjuang walau lika-likunya sedemikian rupa, hingga akhirnya .. He got it!
Yang paling membahayakan disini adalah jika kita telah merasa menemukan ‘batasan’ palsu yang diakibatkan oleh pemikiran negatif kita sendiri, ataupun apa yang kita dengar dari orang lain. Kita memakai batasan itu untuk menjustifikasi ketidakmampuan kita terhadap sesuatu.

 

Sebuah pelajaran berharga, telah kita dapatkan dalam Training Beasiswa Mahaghora 2016 yang lalu.
Kamis, 21 Juli 2016, menjadi awal dari sebuah perjalanan yang mungkin tak akan terlupakan oleh para beswan Mahaghora. Selama empat hari, kami menjalani agenda training pengembangan diri yang juga merupakan bagian dari program kerja dari divisi People Development Beasiswa Mahaghora. Sebuah training yang didesain untuk membekali kami begitu banyak ilmu, wawasan, dan pengalaman yang kami bisa menyebutnya “extraordinary”.
Training kali ini berbeda, karena mencakup tiga agenda besar yakni visitasi pabrik, Emotional Quotient (EQ) Session and Sharing dan mendaki Gunung Penanggungan. Kami para beswan, yang datang dari berbagai kota dan wilayah yang berbeda selama empat hari seakan mendapat privilege (hak istimewa) karena mendapatkan berbagai ilmu, inspirasi dan tentunya networking.
Penulis sendiri merasa mendapatkan mood booster untuk upgrade self management, ketika menjalani pendakian ke puncak gunung. Tak ada tujuan lain selain puncak. Saya berjuang untuk mengalahkan penyakit hati saya, berupaya tak menghiraukan segala bisikan yang membuat menyerah. Bersama rombongan pendakian, kita berjuang bahu-membahu, saling mengingatkan bahwa visi-misi kita harus tercapai dalam perjalanan ini. Tak ada yang saling menjatuhkan, semua memahami kekurangan masing-masing dan menghargai kelebihan masing-masing. Setiap orang diuji konsistensi karakternya dan semua orang berupaya memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya. Begitulah dengan kehidupan yang sepatutnya kita jalani bukan? 
M. Assad, dalam bukunya Note From Qatar berpesan, mulai sekarang, demi progress kehidupan kita yang lebih baik, jangan pernah buat batasan abadi dalam hidup kita agar kita dapat terus berusaha mencapai hal yang terbaik. Jangan mudah percaya dengan anggapan orang lain dan jangan pula cepat merasa puas. Teruslah perbaiki diri setiap harinya. Tiada hari tanpa adanya kemajuan dan peningkatan, evaluasi menyeluruh dan terimalah saran yang membangun dari orang-orang di sekitar kita. Mulailah lebih peka terhadap fakta-fakta inspiratif di sekitar kita. Terakhir, siapkan diri kita untuk selalu memberikan yang terbaik dari apa yang sudah kita miliki sekarang. (Hz)
Break your limit!

 

Zulfa Nur Hanifah – Beswan Mahaghora
Universitas Negeri Jember

One thought on “BREAK THE LIMIT

  • Saya sering menemui bahasan seperti ini. Beberapa waktu yg lalu melalui di t4 saya beribadah jg mengatakan mengenai perkataan.
    Kamu yakin kamu benar , maka kamu memang benar 100% , kamu yakin kamu salah maka kamu benar 100% jg.
    Intinya seperti sebuah judul buku lama yg saya temui d perpustakaan “You can ,think you can. . .”

    God Bless All 😇

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *