PEMIMPIN IDAMAN



Berbicara tentang bagaimana pemimpin yang ideal tak elak mengingatkan kita pada berbagai filosofi yang dianut oleh para pemimpin Indonesia maupun dunia. Banyak sekali kata – kata bijak maupun prosa tersadur di berbagai media. Dalam sekali maknanya, menggugah semangat ataupun membuat kita termanggut salut saking hebat tutur kata mereka. Apakah pemimpin itu yang cerdas dan lihai dalam berbicara? Memiliki kemampuan komunikasi di atas rata – rata orang pada umumnya. Memiliki pemahaman yang dalam atas kehidupan semesta. Tak sedikit dari kita yang mentah – mentah yakin atas kecemerlangan penuturan mereka.
Pemimpin itu juga berproses dan terbentuk dari berbagai macam faktor. 5 % pemimpin memiliki talenta sedari lahir, (mitosnya) dianugerahi kemampuan memimpin oleh Sang Maha Kuasa. 10% pemimpin muncul spontan pada kondisi yang mendesaknya untuk menjadi pionir dalam sebuah pergerakan. 85% pemimpin tercipta karena keinginan kuat untuk meciptakan jiwa kepemimpinan pada pribadi masing – masing. Antara pemimpin yang dilahirkan, dikondisikan, maupun diciptakan manakah dari ketiganya yang merupakan pemimpin paling kuat dan ideal.
Dalam menjalani kehidupan setiap orang memiliki tujuan dan misi, setiap dari diri mereka merupakan pimpinan atas dirinya. Bertanggung jawab atas tujuan dan misinya. Di atas kepentingan orang lain maupun kepentingan bersama siapapun mereka apapun latar belakangnya, pemimpin yang baik adalah yang mampu mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kepada Sang Pencipta dan sesama manusia.
Kita tidak bisa mengukur sebuah kepemimpinan secara fisik. Konkret menjelaskannya dalam kata maupun kalimat. Semuanya dapat kita rasakan bilamana hasil telah ada, dirasakan berhasil bila dinilai cukup ideal dengan standar kita atau tidak.
Pemimpin adalah dia yang melihat apa yang dia yakini. Yakin akan dirinya sendiri, yakin dan percaya akan orang lain yang senantiasa mendukung, dan yakin pada Sang Pencipta atas kuasa-Nya. Memiliki keyakinan besar untuk siap menjalankan tugas, keputusan, komplit dengan konsekuensinya. Memiliki visi dan misi ke depan sehingga dia mampu untuk melihat lebih jauh dan lebih luas. Untuk menjadi mampu pastilah dia yang tertempa dan terproses.
Pengikut adalah dia yang meyakini apa yang dia lihat. Tak alang sekarang banyak sekali pribadi yang mudah sekali digiring opininya untuk memenuhi kepentingan otoritas. Menilai hanya berdasar pada penilaian orang lain, melihat dan berpendapat dengan keyakinan orang lain sebagai acuannya. Tidak berpendirian yang mebuatnya labil dalam mempertahankan sebuah keyakinan. Menjadi kaum beradab dalam peradaban harus memiliki ketahanan pribadi. Menjadi budak peradaban bukanlah hal membanggakan, meski menjadi bagian dari mayoritas namun mebiasakan hal yang biasa belum tentu benar adanya. Membiasakan kebiasaan yang baik apapun kondisinya akan selalu membawa kemaslahatan bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Lantas bagaimanakah seorang pemimpin patutnya berlaku dan bertutur. Bila menilik kembali semboyan pendidikan Indonesia yang lahir dari Sang Guru BangsaIng Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dari semangat semboyan inilah Ki Hajar Dewantoro membangun dan mengembangkan pendidikan Indonesia di era kolonial sehingga kita dapat menikmati pendidikan hingga saat ini.  Pemimpin memosisikan diri dengan baik sebagaimana layaknya ia berlaku dalam segala kondisi. Tak sebatas berlaku dan bertutur,dalam menyikapi berbagai hal pun harus melihat dari berbagai sudut pandang.
Ing Ngarsa Sung Tuladha, di depan sebagai teladan. Memberikan suri tauladan yang baik, lebih bermakna dan mengena dibandingkan dengan penuturan kata-kata bijak. Sesuatu yang didasarkan oleh kesadaran diri sendiri, memiliki keberlangsungan istimewa tak peduli sedang diawasi ataupun tidak. Bahkan menjadi sebuah keharusan untuk dilaksanakan, serupa dengan kebutuhan yang terasa janggal bila tidak dilaksanakan. Membiasakan yang benar kontras perbedaannya dengan membenarkan yang biasa. Membudayakan yang benar, bertindak tegas dan lugas, disiplin serta berkomitmen atas apa yang diperjuangkan untuk kepentingan bersama. Seiring waktu kebiasaaan benar akan membudaya, memberikan energi positif pada keseharian kita. Memang wujudnya tidak nyata, kepuasan batin non fisiklah tolak ukurnya. Namun, rasa syukur atas waktu yang kita jalani memberi kebahagiaan sehingga setiap pekerjaan dilaksanakan dengan sepenuh hati, bernilai dan berkarakter.
Ing Madya Mangun Karsa, di tengah yang menggugah semangat. Menciptakan atmosfer kerjasama sinergis dan berjiwa sportif dengan apresiasidan humor proporsional sehingga tidak menimbulkan kekakuan hubungan. Tidak ada kontrak untuk saling menghargai, menghormati, bahkan meninggikan kepentingan atas jabatan struktural. Agar senantiasa bekerja dalam kondisi optimal, kesinergisan dalam bekerja akan timbul bila menjunjung tinggi saling menghargai dan menghormati. Dengan kearifan saat menengahi suatu persoalan, memandang dari berbagai sudut pandang sehingga keputusan lebih objektif. Kebijaksanaan teruji dalam situasi yang tidak menguntungkan, keputusan diambil dalam waktu singkat.Semangat akan tergugah secara otomatis bila dikondisikan dengan baik dan tepat.
Ada tiga kata pembawa semangat yang sangat ajaib yaitu tolong ketika meminta bantuan, terima kasih ketika ada yang datang membantu, dan maaf saat menyakiti siapapun. Lakukan semua setulus hati dan keajaiban akan terjadi. Menghargai dan menghormati dengan sederhana membawa dampak besar, menjaga semangat bersama agar tetap membara. Pemimpin harus menjadi media ideal karena ikatan dalam tim harus terus dijaga dan dipupuk agar berkembang menjadi tim unggul nan produktif.
Tut Wuri Handayani, di belakang memberikan dorongan. Dorongan untuk kemajuan dan perkembangan kelompok. Memberi dukungan dan pengorbanan besar sebagai pertahanan terakhir agar kelompok senantiasa hidup dan selalu bangkit pada setiap kemelut persoalan. Ada kalanya rencana, ekspektasi tidak sesuai harapan. Disinilah kita saling menguatkan, berjuang bersama bangkit bersama. Pemimpin tidak berdiri sendiri, namun pemimpin merupakan yang terkuat dari yang terkuat untuk kuat bangkit berdiri berlari meraih yang diimpi.
Pemimpin di depan kah? Di tengah kah? Atau di belakang?
Pemimpin garda terdepan dalam keteladanan, membawa kebiasaan benar untuk diterapkan. Pemimpin penyokong semangat bersama agar tetap bergelora, membangun rasa agar setiap cita dapat diraih bersama. Pemimpin pertahanan belakang dalam memberikan dorongan bangkit dikala jatuh tersungkur, pastikan jangan sampai semangat hancur lebur.
Pemimpin lebih dari sekadar posisi melainkan tanggung jawab diri. Bertempat dalam hati dikukuhkan lewat aksi. Berada disetiap hati untuk memimpin diri menjadi insan sejati. Memimpin kelompok agar bermanfaat dan berarti dalam kehidupan ini. (tim media)
(Dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *