KYOIKU MAMA

Kyoiku Mama
Kyoiku Mama | Image : www.pinterest.com wordstuck
Di Jepang ada namanya “kyoiku mama” (ibu pendidikan), para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja, tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak2 mereka mulai bangun, berangkat pulang sekolah, kursus, les, sampai tidur lagi, semuanya di bawah didikan sang ibu.
Para kyoiku mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka, rata2 mereka lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier tapi “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.
Dan kemajuan ekonomi Jepang adalah karena ditopang oleh kyoiku mama ini, makanya tidak heran kalau orang Jepang itu disiplin, etos kerja tinggi, menjaga kebersihan itu semua hasil didikan para kyoiku mama, sehingga sekolah hanya untuk menstransfer ilmu saja.
Sementara “Ryousai kenbo” adalah slogan yang kembali digalakkan pemerintah Jepang, istilah ini muncul di jaman restorasi Meiji dan banyak dianut keluarga Jepang untuk mewujudkan keluarga harmonis ideal.

Ryousai: istri yg baik
Kenbo: ibu yang bijaksana

Intinya menyerukan bahwa peran wanita terhormat adalah sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki. 
Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya dan peran lelaki jadi menteri luar negeri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.
Di Jepang peran ini kembali digalakkan karena sekarang perempuan memilih melajang menjadi wanita karier sehingga presentasi pertumbuhan penduduk muda usia produktif di negara mereka menurun.
Tentu saja kasus kekerasan remaja dan bunuh diri di Jepang pada usia sekolah terus bertambah karena tidak terpenuhinya kualitas hubungan ibu dan anak yang menunjang pertumbuhan emosi anak.
Jadi wajar pemerintahan Jepang sangat memberi tempat terhormat pada peranan ibu rumah tangga yang berkualitas, karena kemajuan bangsanya kelak pun tetap ditopang oleh kualitas ibu-ibu rumah tangganya sebagai pembentuk kualitas karakter anak-anak mereka.
Sungguh luar biasa, “ibu rumah tangga adalah profesi idaman” di Jepang. Bagaimana dengan di Indonesia? Masih banyak masyarakat kita yang memiliki paradigma bahwa wanita sukses adalah wanita yang mampu berkiprah gemilang di dunia kerja. Padahal apalah artinya status itu apabila kewajiban sebagai ibu:  manajer rumah tangga dan pendidik anak, tergadaikan. Makin tingginya kasus broken home, anak terlantar, KDRT dsb berhubungan erat dengan fenomena diaruskannya pemahaman feminisme yang salah kaprah.
Belajar dari fenomena Ibu Pendidikan di Jepang, ini akhirnya yang patut menjadi renungan kita bersama. Pendidikan tinggi memang tetaplah hak setiap manusia, pria maupun wanita. Namun hendaknya semua berjalan sesuai tugas dan fitahnya. Disinilah pula tanggung jawab negara untuk mewajibkan para laki-laki untuk bekerja demi menghidupi keluarga dan tidak menelantarkan istrinya. Negara kemudian wajib memudahkan distribusi kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan yang merata. Kalaulah wanita kemudian memutuskan bekerja adalah suatu kebolehan bukan kewajiban, sehingga tidak sampai menggadaikan tanggung jawab utamanya, sebagai seorang Kyoiku Mama setiap anaknya (Hz).
Hanifah Zulfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *