JACK OF ALL TRADES BUT MASTER OF NONE

JACK OF ALL TRADES BUT MASTER OF NONE
JACK OF ALL TRADES BUT MASTER OF NONE | Image : www.zenoviaandrews.com
Salah satu realita yang perlu dikritisi di sistem pendidikan Indonesia adalah lahirnya generasi “Jack of all trades but master of none”. Yaitu mereka yang banyak tau tentang berbagai hal tapi tidak ahli dalam suatu hal. 

The blog was and continues to be about generalism and generalists, those so-called dabbling dilettantes of knowledge; those curious of everything, but experts at nothing. (Steve Hardy)

Pola mendidik guru-guru TK sampai SMA pada umumnya, yang terkesan menuntut agar muridnya “pintar” di segala bidang pelajaran. Anggapan murid yang ideal dan cerdas adalah mereka yang memperoleh nilai baik di setiap mata pelajaran adalah dambaan setiap guru. 
Belum lagi paradigma masyarakat yang menganggap anak-anak jurusan IPA adalah lebih pintar daripada anak IPS maupun jurusan lainnya. Juga anggapan jurusan Kedokteran adalah paling baik dan prestige di antara jurusan lainnya terkadang terasa sangat tidak adil.
Padahal setiap manusia yang terlahir di dunia memiliki potensi dan bakat alaminya masing-masing. Setidaknya ada kecenderungan untuk lebih ahli dalam suatu hal di antara yang lainnya. Sehingga biasa saja dalam hal lainnya, bahkan sangat tidak berbakat di suatu hal. 
Setiap ilmu yang berguna memang penting dan ada sebuah standard untuk mengukur kemampuan intelektual seseorang melalui penguasaan beberapa bidang ilmu. Hali ini juga berlaku dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Tapi tuntutan untuk unggul di semua bidang dan paradigma di ataslah yang akhirnya membuat generasi kita kebingungan menentukan potensi atau passion hidupnya.
Korban dari sistem ini adalah mereka yang kebingungan untuk menentukan masa depan mereka, di mulai dari memilih bidang keilmuan mereka di perguruan tinggi. Akhirnya banyak yang menentukan berdasarkan standard ataupun alasan yang kurang benar. Seperti jurusan yang diidamkan orang tuanya, jurusan yang menjanjikan gaji besar di masa depan, jurusan yang paling banyak diminati teman, atau lebih parah lagi: asal masuk jurusan apapun karena alasan “dari pada tidak kuliah”.
Hal ini berbeda dengan sistem dan paradigma masyarakat di negara maju, termasuk di kala peradaban Islam mengalami masa jayanya. Setiap anak adalah bintang. Dan setiap ilmu adalah sama baiknya, sama mulianya, sama bergunanya, dengan tingkat kesulitan masing-masing. Meskipun memang ada perbedaan cara dan syarat untuk menguasainya. Misalnya ketekunan dan kemampuan hitung yang baik untuk ilmu eksakta, kemampuan menghafal dan analisa yang baik untuk ilmu sosial, imajinasi yang tinggi untuk ilmu seni dan lain sebagainya. 
Di beberapa negara maju, sejak dini, setiap anak diperbolehkan memilih bakat alami dan kecenderungan mereka dalam mata pelajaran yang mereka suka. Baik itu seni, bahasa, ilmu alam, matematika ataupun sejarah. Hal ini berlaku di sistem pendidikan mereka di sekolah. Sehingga mereka akhirnya tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika memilih bidang keilmuwan di perguruan tinggi. Kombinasi antara sistem pendidikan dan paradigma yang baik ini melahirkan generasi yang percaya diri dengan passion mereka masing-masing dan mudah untuk menjadi ahli dalam suatu bidang.
Maka tak heran, mengapa banyak ahli-ahli berbagai bidang keilmuwan beserta buku-buku akademik banyak lahir dari dunia barat, selain karena faktor sumber-sumber ilmu yang dulu berpindah tangan dari timur ke barat.
Sedang di masa kejayaan Islam, generasi dididik menjadi manusia yang seimbang dalam kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual mereka. Ini dikarenakan kemulian sumber ilmu dan manajemen diri mereka yang baik. 
Apa pengaruh fenomena ini terhadap peradaban bangsa? Jelas pengaruhnya akan begitu signifikan. Terutama dalam terciptanya generasi unggul dan persebaran penguasaan berbagai bidang ilmu dalam bangsa tersebut. 
Memang ada fakta di lapangan bahwa banyak anak Indonesia yang cerdas dan menjuarai kompetisi tingkat internasional. Mereka sudah “master” di bidang masing-masing. Mereka adalah yang mampu menyelamatkan diri dari sistem dan paradigma ini. Namun, sejatinya mereka hanya segelintir dari banyaknya anak Indonesia yang masih terjebak dalam “kegalauan” dan bahkan tidak mendapat akses pendidikan yang cukup.
Belum lagi bila mereka, para jawara kita – lebih dihargai oleh bangsa asing. Dipersulit oleh birokrasi negeri sendiri, dianggap pesaing dalam lingkungan kerja di negerinya, dan tidak mendapat ganjaran yang pantas untuk kerja kerasnya. Dilema hati karena menerima ilmu dari beasiswa asing, kemudahan dan perlakuan hormat di negeri asing serta kondisi tidak ramahnya negerinya sendiri terhadap keahlian dirinya, membuat mereka berkarya dan malah membawa keuntungan lebih banyak untuk asing. Sementara Indonesia kemudian mengimpor karya-karya mereka. Tentu ini suatu kondisi dilematis.
Lalu apakah yang harus kita benahi sekarang ? 
Jawabannya adalah: merombak, menyempurnakan sistem pendidikan dan mengubah paradigma. Bagaimana kemudian kita memahami apa sebenarnya esensi dan guna ilmu itu. Juga agar fenomena “Jack of all trades but master of none” ini tidak terus berkepanjangan. Bahkan yang akan ada adalah polymate (orang yang ahli dalam berbagai bidang secara bersamaan), inilah yang akhirnya mengantarkan masa depan negeri ini menjadi lebih gilang-gemilang. (Hz)
Hanifah Zulfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *