Antara Harapan Dan Capaian Pendidikan Indonesia

Antara Harapan dan Capaian Pendidikan Indonesia
Antara Harapan dan Capaian Pendidikan Indonesia | Foto : bemfis.student.uny.ac.id
Kemajuan pendidikan adalah salah satu pondasi utama keberhasilan suatu bangsa, begitupun dengan negeri kita. Jika ditanya “Apa kabar pendidikan Indonesia hari ini?”… maka saya akan menjawab “tergantung”. Tergantung dari mana sudut pandang dan pembandingnya. 

Kualitas

Jika dari kualitasnya, pendidikan Indonesia memang sudah lebih ‘lumayan’ dari pada negara-negara tetangganya di ASEAN, seperti Vietnam, Kamboja, dan Myanmar misalnya. Namun bila dibandingkan dengan pendidikan di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika dan Eropa, tentu pendidikan Indonesia sangat memerlukan perkembangan lebih lanjut. Tentu ini merupakan sebuah PR besar untuk negeri ini, utamanya kementerian pendidikan kita. Dibutuhkan peningkatan kualitas tenaga pengajar, litelatur sumber, pengembangan insfrastruktur,  serta optimalisasi sistem pelaksanaan dan pengawasannya.
Indonesia, negeri dengan sejuta masalahnya, mulai dari inflasi sampai korupsi. Belum lagi masalah anak jalanan, daerah tertinggal dan sebagainya. Hal ini, membuat fokus (perhatian) pemerintah menjadi terbagi, sehingga dibutuhkan kapabilitas prioritas yang tepat. Jika tidak, bisa jadi ada hal yang utama dan urgent menjadi terbengkalai, dan mendapatkan perhatian yang kecil. 
Selain itu, pembangunan yang terpusat terbukti telah menghasilkan kesenjangan pembangunan dan tidak meratanya distribusi pendidikan di Indonesia. Maka, wajar bila kita akan lebih mudah menjumpai sekolah maupun unversitas yang unggul di daerah perkotaan, dibandingkan di daerah pedesaan maupun pinggiran.
Yang saya tahu dari media dan lingkungan saya, pemerintah telah melakukan begitu banyak upaya untuk masalah ini. Maka, dibutuhkan dukungan berbagai pihak agar upaya perubahan yang ada dapat dicapai. Hal ini disebabkan karena masalah pendidikan adalah masalah yang kompleks, masalah bersama yang membutuhkan partisipasi aktif aktor non-state. Di sinilah  peran penting masyarakat secara luas untuk  mengawasi pelaksanaannya, dan mendukung setiap kebijakan pemerintah selama hal itu mendatangkan manfaat untuk negeri ini. Terutama dalam hal ini, upaya pemerintah untuk mengembangkan pendidikan di daerah terpencil dan perbatasan di Indonesia.
Menurut saya, upaya ini amatlah penting. Daerah perbatasan merupakan garda terdepan (teras negara) yang begitu dekat dengan perhatian negara asing, sehingga semestinya dipoles cantik dengan kemajuan pembangunan dan kesejahteraan di sana. Inilah yang seharusnya menjadi renungan kita bersama. 
Sayapun berharap menjadi generasi yang peduli masa depan negeri. Dan saya yakin suatu hari nanti, pendidikan Indonesia mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan berdikari. Tentu, dengan semakin banyaknya generasi yang mampu menebar inspirasi.

Output

Bila dari segi output didikannya, Indonesia memiliki potensi yang begitu besar. B. J. Habibie, Yohanes Surya, Khoirul Anwar, dan A. Rusdan Handoyo Utomo adalah beberapa contoh ilmuwan kita yang sudah mengharumkan nama negeri ini dengan karya-karyanya yang mengagumkan dunia. Selain mereka, ada ribuan intelektual negeri lainnya yang banyak memiliki hak paten di negeri orang. Kenyataan ini memang membuat kita bangga.
Namun, kita harus waspada dengan sikap self complacency (rasa berpuas diri). Belum meratanya pembangunan fasilitas pendidikan, menyebabkan kesenjangan yang luar biasa terhadap lahirnya generasi yang sangat jenius, namun juga di sisi lain ada generasi yang amat tertinggal (tak terpelajar). Data statistik menunjukkan bahwa jumlah (kuantitas) instansi pendidikan mulai dari jenjang sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi  semakin kecil jumlahnya. Sehingga setiap tahunnya ada begitu banyak anak Indonesia yang putus sekolah, baik karena tidak mendapatkan kesempatan sekolah yang lebih tinggi, faktor ekonomi, dan bahkan hilang di jalanan. Hal ini tentu sungguh memiriskan.
Problem birokrasi dan sistem royalti yang masih ‘mahal’ dan berbelit-belit di Indonesia juga membutuhkan pengkajian dan perbaikan lebih lanjut. Hal ini amatlah penting, agar kedepannya intelektual Indonesia dapat diberdayakan dan diberi kemudahan untuk berkarya di negeri sendiri. 
Nyatanya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu kaya, yang menunggu dikelola oleh ilmuwan negeri yang jenius seperti mereka. Jika hal ini terwujud, maka akan diperoleh manfaat yang begitu besar untuk negeri ini. Bayangkan saja, selain karena mendatangkan devisa yang lebih besar, alih teknologi dan ilmu pengetahuan pun juga akan menjadi semakin mudah dan optimal. (Hz)
Kemajuan pendidikan adalah salah satu pondasi utama keberhasilan suatu bangsa, begitupun dengan negeri kita. Jika ditanya “Apa kabar pendidikan Indonesia hari ini?”… maka saya akan menjawab “tergantung”. Tergantung dari mana sudut pandang dan pembandingnya. 

Kualitas

Jika dari kualitasnya, pendidikan Indonesia memang sudah lebih ‘lumayan’ dari pada negara-negara tetangganya di ASEAN, seperti Vietnam, Kamboja, dan Myanmar misalnya. Namun bila dibandingkan dengan pendidikan di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika dan Eropa, tentu pendidikan Indonesia sangat memerlukan perkembangan lebih lanjut. Tentu ini merupakan sebuah PR besar untuk negeri ini, utamanya kementerian pendidikan kita. Dibutuhkan peningkatan kualitas tenaga pengajar, litelatur sumber, pengembangan insfrastruktur,  serta optimalisasi sistem pelaksanaan dan pengawasannya.
Indonesia, negeri dengan sejuta masalahnya, mulai dari inflasi sampai korupsi. Belum lagi masalah anak jalanan, daerah tertinggal dan sebagainya. Hal ini, membuat fokus (perhatian) pemerintah menjadi terbagi, sehingga dibutuhkan kapabilitas prioritas yang tepat. Jika tidak, bisa jadi ada hal yang utama dan urgent menjadi terbengkalai, dan mendapatkan perhatian yang kecil. 
Selain itu, pembangunan yang terpusat terbukti telah menghasilkan kesenjangan pembangunan dan tidak meratanya distribusi pendidikan di Indonesia. Maka, wajar bila kita akan lebih mudah menjumpai sekolah maupun unversitas yang unggul di daerah perkotaan, dibandingkan di daerah pedesaan maupun pinggiran.
Yang saya tahu dari media dan lingkungan saya, pemerintah telah melakukan begitu banyak upaya untuk masalah ini. Maka, dibutuhkan dukungan berbagai pihak agar upaya perubahan yang ada dapat dicapai. Hal ini disebabkan karena masalah pendidikan adalah masalah yang kompleks, masalah bersama yang membutuhkan partisipasi aktif aktor non-state. Di sinilah  peran penting masyarakat secara luas untuk  mengawasi pelaksanaannya, dan mendukung setiap kebijakan pemerintah selama hal itu mendatangkan manfaat untuk negeri ini. Terutama dalam hal ini, upaya pemerintah untuk mengembangkan pendidikan di daerah terpencil dan perbatasan di Indonesia.
Menurut saya, upaya ini amatlah penting. Daerah perbatasan merupakan garda terdepan (teras negara) yang begitu dekat dengan perhatian negara asing, sehingga semestinya dipoles cantik dengan kemajuan pembangunan dan kesejahteraan di sana. Inilah yang seharusnya menjadi renungan kita bersama. 
Sayapun berharap menjadi generasi yang peduli masa depan negeri. Dan saya yakin suatu hari nanti, pendidikan Indonesia mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan berdikari. Tentu, dengan semakin banyaknya generasi yang mampu menebar inspirasi.

Output

Bila dari segi output didikannya, Indonesia memiliki potensi yang begitu besar. B. J. Habibie, Yohanes Surya, Khoirul Anwar, dan A. Rusdan Handoyo Utomo adalah beberapa contoh ilmuwan kita yang sudah mengharumkan nama negeri ini dengan karya-karyanya yang mengagumkan dunia. Selain mereka, ada ribuan intelektual negeri lainnya yang banyak memiliki hak paten di negeri orang. Kenyataan ini memang membuat kita bangga.
Namun, kita harus waspada dengan sikap self complacency (rasa berpuas diri). Belum meratanya pembangunan fasilitas pendidikan, menyebabkan kesenjangan yang luar biasa terhadap lahirnya generasi yang sangat jenius, namun juga di sisi lain ada generasi yang amat tertinggal (tak terpelajar). Data statistik menunjukkan bahwa jumlah (kuantitas) instansi pendidikan mulai dari jenjang sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi  semakin kecil jumlahnya. Sehingga setiap tahunnya ada begitu banyak anak Indonesia yang putus sekolah, baik karena tidak mendapatkan kesempatan sekolah yang lebih tinggi, faktor ekonomi, dan bahkan hilang di jalanan. Hal ini tentu sungguh memiriskan.
Problem birokrasi dan sistem royalti yang masih ‘mahal’ dan berbelit-belit di Indonesia juga membutuhkan pengkajian dan perbaikan lebih lanjut. Hal ini amatlah penting, agar kedepannya intelektual Indonesia dapat diberdayakan dan diberi kemudahan untuk berkarya di negeri sendiri. 
Nyatanya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu kaya, yang menunggu dikelola oleh ilmuwan negeri yang jenius seperti mereka. Jika hal ini terwujud, maka akan diperoleh manfaat yang begitu besar untuk negeri ini. Bayangkan saja, selain karena mendatangkan devisa yang lebih besar, alih teknologi dan ilmu pengetahuan pun juga akan menjadi semakin mudah dan optimal. (Hz)
Hanifah Zulfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *