(IDE)nesia

Sumpah Pemuda
Indonesia, negeri sejuta masalah.
Pengangguran, banjir, macet, sampah, inflasi sampai korupsi. Sebuah catatan ini penulis susun dengan kesadaran bahwa tidak lama lagi tahun 2015 akan segera berlalu meninggalkan kita. Oktober, November, Desember, tinggal menghitung bulan saja untuk menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016.
2016? Ya ini artinya Indonesia dikabarkan akan benar- benar memasuki era MEA, sebagaimana yang telah direncanakan. MEA yang diharapkan menjadi momen dimana akan terwujud integrasi antarnegara ASEAN. Namun, secara pasti juga meniscayakan pintu perdagangan bebas dibuka selebar-lebarnya untuk kawasan Asia Tenggara. Aliran modal dan bebasnya persaingan akan semakin nyata kita rasakan.
Sebuah kesadaran ini juga sebenarnya diikuti dengan sebuah kecemasan akan kesiapan negeri ini. Benarkah Indonesia siap menghadapinya? Seberapa besar modal persiapan bangsa ini menyambut persaingan MEA? Apa peran pemuda Indonesia dalam situasi seperti ini?
***
Pada hari Sabtu, 19 September lalu, sebuah seminar bertajuk “CREATIVEPRENEUR SEMINAR AND WORKSHOP 2015” digelar di Hotel Novotel Surabaya. Acara yang diselenggarakan Yayasan Swayanaka Indonesia ini bertema FROM ZERO TO HERO: Value Proportion Design and Competitive Strategy to Perform in An Overcrowded International Market. Peserta seminar ini didominasi oleh kalangan pemuda terutama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Para peserta terlihat begitu antusias mendengarkan pemaparan Raul Renanda, Patrick Effendy dan Gamaliel Waney, yang merupakan keynote speaker pada saat itu.
Seminar ini diharapkan menjadi wadah para pakar entrepreneurtersebut dapat berbagi ilmunya kepada para pemuda untuk mampu menghadapi era persaingan global yang sudah bisa disebut ‘overcrowded’ ini. Yakni kondisi dimana persaingan (terutama di dunia bisnis) sudah terasa begitu kompetitif dengan adanya keahlian dan kekuatan ide-ide pelaku di dalamnya.
***
Sebagaimana realita yang kita jumpai selama ini, pemuda adalah ideas maker generation. Generasi yang banyak gagasan, imajinasi dan ide, bagaimanapun rupa ide itu. Hal ini dikarenakan periode usia mereka yang meniscayakan produktivitas itu sendiri. Ide-ide mereka begitu beragam, terutama dalam hal ide berbisnis.
Semangat untuk berkarya dan bisa mandiri sedini mungkin -menjadi motivasi utama sebagian besar dari mereka. Di samping itu, lingkungan di sekitar mereka juga menuntut generasi muda untuk kreatif berinovasi dan berorientasi profesi. Hal ini termaktub dalam kurikulum perguruan tinggi yang berbasis KKNI, yang diharapkan mensolusi berbagai masalah negeri.
Namun, bagaimana pemuda Indonesia mampu menyiapkan diri dan menghadapi tantangan persaingan ini?
Raul Renanda, seorang desainer arsitektural, menawarkan solusinya. Penulis buku “Mencuri Kreativitas Desainer” ini menyampaikan bahwa sudah saatnya kita lebih mengenal jati diri kita sendiri. Utamanya sebagai bangsa Indonesia.
Ibarat seorang manusia, kesadaran untuk benar-benar mengenal “diri sendiri” adalah suatu hal yang penting. Bahwa meluangkan waktu sejenak, untuk mencoba memahami jati diri sendiri terlebih dahulu, adalah perlu adanya. Namun seringkali kita terlalu fokus dengan impian-impian kita, sehingga kita mengesampingan pentingnya pemahaman terhadap identitas diri. Begitupula yang terjadi dengan negeri ini. Ya, negeri kita, Indonesia.
Mari kita mulai dengan pertanyaan,
Apa itu INDONESIA?
Seberapa jauh kita mengenal Indonesia?
Apa sih yang menarik dari Indonesia?
Masalah apa yang Indonesia tengah hadapi sekarang?
Dan bagaimana dunia mengenal Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan di atas seolah-olah menguji pemahaman kita terhadap identitas dan kondisi negeri ini. Selain itu, menguji seberapa mampu kita mendapatkan ide yang menarik, solutif, dan unik.
Indonesia memiliki sejuta masalah yang menunggu untuk diselesaikan satu persatu. Kita selama ini belum 100% percaya diri dengan apa yang kita miliki dan apa yang kita mampu lakukan. Kita sudah terlalu lama berada dalam dominasi asing dalam hal produk, teknologi, budaya bahkan model pembangunan sekalipun. Tidak dapat dipungkiri pula, bahwa generasi kita pernah menderita penyakit inlander yang cenderung menyukai segala hal dari asing. Padahal, kita sebenarnya tau bahwa Indonesia juga memiliki generasi yang begitu potensial, yang ingin mandiri membangun masa depan negeri.
***
Menjawab masalah dengan ide kreatif?
Kita dan kesibukan kita sekarang adalah gabungan dari pilihan-pilihan. Sebuah pilihan, kita peroleh dari suatu proses berpikir. Begitupula sebenarnya cara untuk menjadi orang kreatif. Yang kita perlukan  sekarang adalah DESIGN THINKING. Teknik berpikir untuk menciptakan ide-ide kreatif. Ide kreatif ini adalah cara yang unik dan berbeda untuk menyelesaikan persoalan. Ide kreatif juga sering dikatakan sebagai sebuah ide yang cerdas untuk mensolusi masalah.
Bila dalam dunia bisnis, meski kondisinya telah overcrowdedsekalipun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada kesempatan berkarya yang luas bagi mereka yang kreatif. Oleh karena itu, kreativitas akan membuat seseorang bisa survive dalam persaingan.

Banyak orang yang berpikir bahwa, orang kreatif adalah orang-orang yang dilahirkan kreatif (unik). Kreatif adalah gift, wangsit dan sebagainya. 

Inilah paradigma yang perlu diluruskan. Mulai sekarang kita harus yakin, bahwa semua manusia itu unik dan semuanya berpeluang untuk menjadi kreatif. Pada dasarnya ide kreatif itu ada dari suatu proses berpikir, dengan cara-cara yang seringkali tak terduga ataupun berbeda dengan biasanya. Kreatif dan unik, adalah dua hal yang hampir tak terpisahkan. Mereka saling melengkapi. Untuk menjadi unik, seseorang perlu berpikir dan berperilaku berbeda daripada orang-orang di sekitarnya.
Hal yang perlu kita perlu ketahui sekarang adalah mengenal diri kita. Kuncinya adalah fokus dengan apa yang kita miliki, bersyukur dan banggalah dengan hal itu. Kemudian lakukan analisis SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Treat), apakah itu berupa gagasan yang bermanfaat bagi orang banyak atau tidak.
Percayalah bahwa ide yang benar-benar berasal dari pikiran kita adalah original, khas dan istimewa. Seistimewa setiap manusia yang terlahir dengan sidik jari yang berbeda.
Bagaimana membuat ide kita menjadi kenyataan yang istimewa?
Mulai sekarang yakinkan pada diri kita bahwa apa yang kita punya adalah menarik bagi orang lain. Ide kita adalah apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Jika ide kita benar-benar dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita dan ide kita nantinya mampu menguntungkan banyak pihak (seperti membuka peluang kerja dan memberdayakan orang lain) maka ada banyak pihak yang siap membantu kita mewujudkan ide-ide kita itu.
Kita sebenarnya beruntung bisa hidup di era digital seperti hari ini, sebab bila berkaca pada masa lalu, kita akan tahu bahwa hambatan kita adalah :
-akses informasi yang lambat
-keterbatasan komunikasi
-teknologi belum mumpuni
Padahal, sekarang kita punya:
-INTERNET! (bersyukurlah sekarang kita punya internet)
-sejarah Indonesia yang panjang, sehingga sebenarnya menjamin kita punya banyak ide dan gagasan
-kekayaan keberagaman
-ide-ide original
-bonus demografi
-era gadget dan desain (grafik maupun visual)
Lalu, “Bagaimana membuat apa yang kita punya menjadi relevan untuk dua dunia (kita dan asing)”?
Logika sederhanya, bila Barat punya  French fries, maka Indonesia harusnya mampu mempopulerkan Gorengan-nya. Tentu dengan membuatnya unik dan berkualitas.
How to be creative?
We just need to follow this simple steps:
1.       Peka dengan keadaan sekitar
2.       Tidak takut gagal
3.       Act now!
Pahami kegagalan (Smart Mistake)
Sebagian orang yang menganggap bahwa kegagalan adalah akhir segalanya. Sebuah kondisi yang begitu dekat dengan keputus-asaan. Sebuah moment yang membuat kita tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan usaha kita, apapun itu. Namun, sebagian yang lain lebih memilih melihat kegagalan sebagai   hal yang lumrah terjadi dan kemudian bangkit dengan semangat baru.
Ya! Mulai sekarang kita harus bersahabat dengan yang namanya kegagalan. Sebagaimana seorang sahabat, maka kita dan kegagalan harus saling mengingatkan dan koreksi diri. Sikap yang baik dalam menghadapi kegagalan adalah dengan belajar banyak darinya. Smart Mistake. Gunanya agar kita menemukan solusi dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Kegagalan dan kekurangan kadang kala menjadi peluang kita untuk mendapatkan suatu hal yang unik. Tentu, ini membutuhkan kesabaran untuk “cerdas” menyikapinya. Maka yakinlah, bahwa kegagalan merupakan salah satu cara Tuhan menguji dan memuliakan kita daripada yang lain.
Re-discover (Evaluasi)
Dalam memahami kegagalan atau ketika kita sampai pada masa tertentu dimana ide kita sudah terlaksana kembali, maka kita perlu evaluasi, evaluasi dan evaluasi. Ini bertujuan agar kita semakin mengenal karya kita dan menyiapkan solusi untuk mengantisipasi bila ada masalah berikutnya
Seringkali, kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang kompleks atau pekerjaan yang multitasking. Perhatian kita menjadi terbagi-bagi, dan sulit menyelesaikan sesuatu dengan optimal. Bagaimana mengatasinya?
·         Skala prioritas: Dahulukan penting-mendesak, daripada penting-tidak mendesak.
·         Melatih fokus ketika melakukan setiap pekerjaan dan tanggungjawab
·         Berlatih untuk bekerja efektif dan efisien
·         Temukan passion utama (expert), beri dia porsi perhatian terbesar
***
Patrick Effendy, seorang Executive producer of visual expert production & animation, mengingatkan kita dengan sebuah quoteWalt Disney: If you can dream it, you can do it. Kita dapat memaknainya dengan keyakinan bahwa setiap ide besar yang kita impikan, akan bisa terwujud dengan kemauan kita memulainya. 
Umumnya berbagai macam ide akan dapat lebih jelas kita pahami dengan menuliskannya. Di samping itu, visualisasi ide kita juga menjadi sangat penting. Entah itu berupa diagram, mind map, desain, video  dsb.
Begitu pentingnya gambar, orang Barat terbukti begitu serius mengembangkan animasi mereka, maka wajar bila mereka punya Pixar, Walt Disney, Universal Studios, Dreamworks, Warner Bros. Pictures dsb.
Kondisi inilah yang kemudian menginspirasi Patrick dan kawan-kawannya di Visual Expert, untuk sibuk menggarap “Plentis Kentus”, sebuah karya animasi 3D anak negeri yang diharapkan mampu relevan di dua dunia: dalam dan luar negeri.
Indonesia dengan sejarah dan keragaman budayanya yang begitu kaya, seharusnya bisa menjadi sumber referensi (inspirasi) untuk kita. Hal ini menunjukkan adanya peluang besar bagi perkembangan animasi anak negeri.
Mengapa animasi dari Barat dan Jepang begitu terkenal dan memiliki karakter yang kuat? Ini disebabkan karena mereka sering memanfaatkan ide original dari bangsa mereka sendiri, sehingga unik bagi kita orang Indonesia. Selain itu, mereka telah terlebih dahulu merasakan kemudahan akses informasi dibanding Indonesia.
Selama ini kita sudah terlanjur bertumbuh dan berkembang dengan kesibukan ingin menguasai hal-hal teknis, IT, teknologi dsb, daripada melakukan pemahaman karakter terlebih dahulu. Padahal jika keduanya beriringan, pembangunan Indonesia bisa dipastikan lebih sustainable dan survivedi era persaingan global ini.
Jika mulai sekarang kita peka mengenali potensi yang kita miliki, beberapa waktu lagi kita pasti mampu bersaing dengan asing di berbagai bidang. Kuncinya adalah:
Explore-Discover-Expand-and Make it Relevan
Jika hal-hal original dari asing adalah menarik bagi kita, maka artinya hal-hal original yang kita miliki selama ini adalah menarik bagi orang asing. Keragaman budaya, masalah sosial- kemasyarakatan, bahkan gamesand makanan tradisional sekalipun bisa menjadi inspirasi ide-ide kita.
Selama ini kendala animasi di Indonesia adalah :
·         Modal yang terbatas
·         Kurang percaya diri dengan ide original yang ada
·         Terlalu fokus pada hasil akhir
·         Masalah mental : kecenderungan untuk menyerah sebelum mencoba
Menurut Patrick, solusi atas semua masalah ini adalah Mulailah bekerja! Dengan membangun ekosistem positif untuk menampung ide-ide, membentuk komunitas yang sinergis sebagai wadah kerjasama dan bertemunya orang-orang kreatif untuk kemajuan animasi Indonesia.
If I try my best and fail,
Well, I’ve tried my best(Steve Job)
Bertahan Dalam Persaingan Dengan Sustainable Entrepeneur
Dahulu, pada masa revolusi industri, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya, Barat menerapkan sistem pembelajaran di sekolah-sekolah, dan tempat pelatihan dengan model kelas besar. Para pekerja dicetak sebagai manusia yang keahliannya tespesialisasi (sesuai kebutuhan perusahaan dan pasar), sehingga mereka bagaikan robot yang telah ter-setting untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Keadaan seperti ini akhirnya memperkecil peluang lahirnya kreativitas dan ide-ide unik.
Barat kemudian mulai menyadarinya, bahwa dibutuhkan sistem pendidikan yang lebih komprehensif, sehingga memungkinkan dihasilkannya outputorang-orang kreatif. Namun, model kelas besar sendiri tidak ditinggalkan begitu saja, ia tetap digunakan sebagai model pembelajaran dalam situasi-situasi tertentu.
Gamaliel Waney, Founder AlxMar dan Branding Strategist, menyatakan bahwa perkembangan ekonomi  kreatif Barat kemudian diperkuat dengan semakin berdayanya bidang entrepeneurship. Model perekonomian ini memungkinkan teraktualisasikannya ide-ide original dari setiap individu. Akhirnya berbagai bentuk karya di bidang teknologi, jasa, manufaktur dan media, berkembang pesat di bandingkan negara-negara lainnya. Selain itu, Barat diuntungkan dengan banyaknya sumbangsih karya-karya cipta ilmuwan mereka di masa Renaisans. Sehingga tak mengherankan bila sekarang mereka mampu bersaing bahkan menguasai pasar dunia.
Perubahan ekonomi di Barat akhirnya kemudian mempengaruhi perubahan perekonomian negara-negara berkembang (termasuk Indonesia). Perkembangan ekonomi berbasis wirausaha pun, kini menjadi strategi penguatan ekonomi negeri. Berbagai kerangka kerja, kurikulum dan event-event bertema entrepreneurmenjadi tren baru masyarakat ke-kini-an. Menurut Gamaliel, entrepreneur merupakan suatu entitas yang sustainable, ide usaha mereka adalah berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena produk mereka yang merupakan kebutuhan banyak orang dan relevan di berbagai masa. Tentu dengan upaya mengembangan dan modifikasi di sana-sini.
***
Sekarang kita sudah dihadapkan dengan tantangan persaingan MEA yang semakin dekat, sedangkan kita tahu, sasaran utama MEA adalah aliran modal dan perdagangan bebas tanpa hambatan. Tentu dengan kesadaran ini, sudah sepantasnya kita menyiapkan diri. Kita hanya perlu mandiri dalam tataran individu atau kelompok. Sehingga bukan berarti kita mandiri dari negara, karena negara adalah yang sebenarnya  bertanggung-jawab sepenuhnya atas kesejahteraan rakyatnya. Sebagai warga negara yang baik, sembari kita mengawasi dan mengoreksi pemerintah, tugas utama kita adalah menginspirasi pemerintah dengan ide-ide kreatif kita.
Memulai Bisnis
1.       PASSION. Akan sempurna dengan compassion (standar mengukur passion), yang membuat passion itu terlaksana.
2.       IDEA. Membutuhkan anger, dalam arti semangat untuk merealisasikan ide-ide yang ada.
3.       PEKA. Tentang bagaimana melihat bebagai bentuk ketidak-adilan di dunia ini dengan kepedulian.
Seringkali kita berpikir, bahwa sebuah ide itu muncul dari “AHA Moment?”.
Did you know? Sebenarnya, teori ini tidak pernah terjadi dalam dunia nyata. Ide, pada dasarnya didapatkan dari suatu proses yang gradual, dan dengan adanya pemahaman terhadap momen-momen yang berkesinambungan. Unsur utamanya adalah : pemikiran, objek, dan kesadaran. Sehingga wajar, bila ide seringkali tidak bisa muncul saat meeting formal.
Setelah, seseorang merumuskan suatu ide, maka untuk menerapkannya, dapat dilakukan strategi berikut:
·         Never fallin in love with your first idea
·         Seek feedback, not acknowledgement
·         Model your strategy
·         Get it done
Banyak orang di luar sana yang memiliki begitu banyak ide, namun sebagian tidak mampu menjalankannya. Ide-ide itu hanya berhenti di tataran pemikiran tanpa eksekusi (aksi) yang berarti. Namun, bagi segolongan mereka yang mau memulainya, mau bersabar dengan prosesnya, dan mau menyelesaikannya, maka dialah akan mendapatkan keuntungan dari ide-ide tersebut.
***
Indonesia di masa lalu adalah pelajaran berharga. Indonesia hari ini adalah realita. Sedang di pundak kita, masa depan Indonesia itu ada.

Menjadi generasi mandiri, kreatif dan prestatif? Why not? .(Hz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *